Tukang Bakso Naik Haji

Diposting olehviky on Selasa, 23 Agustus 2011

Di suatu sore saya bersama kawan-kawan sedang bercengkrama di teras depan rumah, karena cuaca yang sedang gerimis kami memilih untuk duduk-duduk santai di depan rumah, padahal sore itu kami berencana untuk bermain futsal di lapangan dekat rumah.

di saat sedang asik-asiknya ngobrol tiba-tiba terdengar suara tok..tok..tok, wah ,... kebetulan nih, karena udara yang dingin membuat perutku terasa lapar, kebetulan ada tukang bakso langgananku yang lewat, lalu aku menawari teman-temanku, "ada yang mau bakso ga ?"

"mauuuu..." jawab mereka kompak.

Singkat cerita kemudian aku memesan beberapa mangkok bakso untuk mereka, dan kami lahap memakannya. Karena aku yang nawarin terpaksa aku yang harus membayarnya.

Ada yang mengusik fikiranku setiap aku membayar bakso, aku melihat si mamang bakso selalu memisahkan uang yang aku bayar ke tiga tempat, sebagian di masukan kedalam dompet, sebagian kedalam laci gerobaknya, dan sebagian lainnya di masukan kedalam kaleng. Karena penasaran akupun memebranikan diri untuk bertanya.

“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang-uang itu pisahkan? apa tujuannya?”
“Iya pak, memang sengaja saya memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”.
“Maksudnya…?”, saya melanjutkan bertanya.

“Iya Pak, kan agama dan islam menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi 3 tempat, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang saya  masukan ke dompet,  untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk menafkahi keluarga saya.
2. Uang yang saya masukan ke laci itu untuk infaq /sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 20 tahun menjadi tukang bakso saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang saya masukan kedalam kaleng untuk menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka saya sepakat dengan istri untuk menyisihkan sebagian uang yang saya dapat dari berdagang bakso untuk di masukan ketabungan haji. Dan insya Allah setelah 20 tahun menabung,  tahun depan saya dan istri akan berangkat ketanah suci untuk menyempurnakan rukun Islam kami, yaitu menunaikan ibadah haji.

Hatiku sangat… sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

lalu saya kembali bertanya  “Iya tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…?

lalu si tukang bakaso menjawab "Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Tuhan kalau bicara soal Rezeki karena selama ini kami sudah diberi Rizky walaupun menurut orang tidak banyak tapi insyaallah dapat memenuhi semua kebutuhan kami, karena besar kecilnya rizky itukan relatif, tergantung orang yang  melihatnya, dan sejauh mana kita dapat bersyukur atas rizky yang kita dapat tersebut. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat..?"

“Masya Allah… ternyata tukang bakso ini memiliki fikiran yang lebih luas di bandingkan denga mereka yang lebih berpendidikan”.

"Sesungguhnya Allah berfirman: Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku dan Aku akan senantiasa menyertainya apabila berdoa kepada-Ku” (HR. Bukhari Muslim)

{ 0 komentar.. read them below or add one }

Posting Komentar

 

Blog Archive